Kakbah Sebagai Poros Bumi


(Cahaya  yang Muncul Itu Berasal dari Baitullah)

Ir. Rony Ardiansyah, MT, IP-U.

Peminat Sains Qur’an & Hadis/Dosen Pasca Sarjana Magister Teknik Sipil UIR

                Allah berfirman, “Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia, ialah (Baitullah) yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam,” (QS. Ali Imran [3]: 96)

            Menurut Al-Qurthubi yang dipaparkan oleh Sami bin Abdullah al-Maghluluts (dalam Atlas Sejarah Para Nabi & Rasul) berpendapat, dalam menafsirkan ayat tersebut bahwa orang yang pertama kali membangun Baitullah (Kakbah) ini adalah Adam. Ali bin Abu Thalib berkata, “Allah memerintahkan para malaikat untuk membangun Baitullah di bumi dan bertawaf di sana. Peristiwa tersebut terjadi sebelum adam diturunkan ke bumi. Setelah turun, Adam menyempurnakan bangunannya dan bertawaf di sana, juga para nabi setelahnya. Kemudian pembangunan Baitullah terebut kembali disempurnakan oleh Nabi Ibrahim.”

            Judul artikel ini diambil dari salah satu sub judul Ensiklopedi Kemujizatan Ilmiah dalam Al-Qur’an & Sunah. Islam sebagai sebuah sinar yang dibawa Rasullah SAW pun harus merata penyebarannya hingga ke seluruh penjuru bumi. Dimana dasar menunjuk Kakbah (Baitullah) adalah poros bumi, yakni mengacu kepada Surat Asy-Syura. Allah SWT berfirman, “Dan demikianlah Kami wahyukan Al-Qur’an kepadamu dalam bahasa Arab, agar engkau memberi peringatan kepada penduduk ibukota (Makkah) dan penduduk (negeri-negeri) di sekelilingnya.” (QS. Asy-Syura [42]: 7).

            Riset yang dilakukan Lembaga Kemukjizatan Al-Qur’an dan As-Sunnah di Mekah al-Mukarramah telah menyimpulkan berbagai informasi penting. Informasi penting tersebut, antara lain menyatakan bahwa bumi itu berbentuk bulat, tepatnya bulat telur sehingga porosnya bukan berupa titik pusat, melainkan segitiga.

            Berdasarkan gambar yang dihasilkan diperoleh pesawat ruang angkasa, kota Mekah itu berbentuk segitiga. Hasil ini diperoleh saat pesawat tersebut telah melewati ruang angkasa.

            Selain itu, diperoleh juga kenyataan lain yang sangat penting untuk diketahui, yaitu bahwa alam semesta ini berubah menjadi gelap saat pesawat telah melewati 200 km. Sebagaimana firman Allah SWT, gelap merupakan unsur utama alam raya.

            “Dan suatu tanda (kebesaran Allah) bagi mereka adalah malam: Kami tanggalkan siang dari (malam) itu, maka ketika itu mereka (berada dalam kegelapan),” (QS. Yasin [36]: 37).

            “Apakah penciptaan kamu yang lebih hebat ataukah langit yang telah dibangun-Nya? Dia telah meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya, dan Dia menjadikan malamnya (gelap gulita), dan menjadikan siangnya (terang benderang).” (QS.An-Naziat [79]: 27-29).

Saat pesawat semakin tinggi menjelajahi ruang angkasa, di tengah kegelapan itu ditemukan cahaya yang muncul dari bawah bumi. Setelah ditelusuri, ternyata cahaya itu berasal dari kota Mekah, tepatnya dari Baitullah. Saat para astronaut hendak mengetahui pencapaian cahaya tersebut, didapati bahwa cahaya tersebut terus bersinar menembus alam raya dan ruang angkasa tanpa batas. Sayang, kenyataan ini mereka sembunyikan dari dunia luas.

Saat Muhammad sayyid kemudian membahas masalah ini dengan Abdullah al-Mushlih di Lembaga Kemukjizatan Al-Qur’an dan As-Sunnah, disimpulkan bahwa Baitullah merupakan ketentuan dan ketetapan Sang Pencipta. Burung Merpati dan burung-burung lainnya pun terbang mengintari rumah itu, tidak terbang di atasnya. Burung mampu melihat sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh manusia. Manusia hanya mampu melihat satu dari sepuluh juta bagian yang ada. Penglihatan manusia hanya mencapai 400-700 milyar frekuensi per detik, yakni warna merah hingga merah jingga (violet). Di luar batas ini, manusia tidak mampu melihat apa pun. Karena itu, Allah SWT berfirman.

Maka Aku bersumpah demi apa yang kamu lihat, dan demi apa yang tidak kamu lihat,” (QS. Al-Haqqah [69]: 38-39).

Semua keterangan itu membuktikan bahwa Kabah merupakan poros bumi. Peredaran dan perputaran bumi dimulai dari poros ini. Berjalan mengelilingi Kabah sebanyak tujuh kali pun menjadi bermakna, begitu pulah dengan angka tujuh. Zat yang bermasa atom paling kecil, yaitu hidrogen, jika dibangkitkan elektronnya, akan berputar sebanyak tujuh putaran energi. Sama halnya dengan massa atom paling besar, yaitu uranium. Jika dibangkitkan elektronnya, uranium akan berputar juga sebanyak tujuh putaran energi.

Sesuai janji Allah SWT, orang yang melakukan tawaf  hingga ke multazam akan dibebaskan dari siksaan neraka. Allah SWT akan menutupi pintu itu. Tawaf merupakan ritme yang bersesuaian dengan gerak alam raya, baik di langit maupun tubuh manusia itu sendiri. Secara otomatis, seluruh anggota tubuh, baik yang disadari maupun yang tidak disadari, akan bertasbih dan bersyukur kepada Allah SWT saat seseorang melakukan tawaf.Atom-atom dalam tubuh pun menjadi serasi. Pada saat itu terjadi persesuaian antara lisan seseorang dan seluruh gerak indra tubuh. Wallaahu a’lam. ***

About these ads

One response to “Kakbah Sebagai Poros Bumi

  1. Shubhanallooh, shodaqalloohaladzim.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s